Jakarta – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memperkuat langkah pelestarian warisan budaya nasional melalui penjajakan kerja sama strategis dengan PERURI (Percetakan Uang Republik Indonesia). Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta tersebut membahas berbagai peluang kolaborasi, mulai dari pengembangan museum, pelestarian benda filateli, hingga pengamanan sertifikasi di bidang kebudayaan.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga keberlanjutan budaya material Indonesia sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat, terutama generasi muda, mengenai pentingnya benda-benda bersejarah sebagai bagian dari identitas bangsa.
Budaya Material Menjadi Fokus Kerja Sama
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menilai PERURI memiliki posisi penting dalam sejarah Indonesia. Selama puluhan tahun, perusahaan negara tersebut dikenal sebagai lembaga yang bertanggung jawab mencetak uang rupiah, dokumen negara, perangko, meterai, hingga berbagai dokumen keamanan lainnya.
Menurutnya, seluruh produk tersebut bukan sekadar alat administrasi, tetapi juga merupakan bagian dari budaya material Indonesia yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon menyampaikan bahwa salah satu agenda utama yang tengah disiapkan pemerintah adalah pengelolaan Museum Prangko yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Museum tersebut dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi sejarah komunikasi dan filateli Indonesia apabila dikelola secara lebih modern dan menarik.
Selain Museum Prangko, koleksi perangko, meterai, uang kuno, hingga berbagai dokumen bersejarah hasil produksi PERURI juga dinilai layak mendapatkan perhatian khusus sebagai aset budaya nasional.
Museum Prangko Akan Dikembangkan Lebih Modern
Pengembangan Museum Prangko menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan antara Kementerian Kebudayaan dan PERURI.
Museum tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi lama, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman edukatif yang menarik bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pemerintah ingin museum hadir sebagai ruang belajar interaktif yang memperkenalkan sejarah perjalanan bangsa melalui perangko, uang, meterai, hingga berbagai dokumen penting lainnya.
Konsep revitalisasi juga mencakup penyempurnaan tata pamer, digitalisasi informasi koleksi, serta penyediaan program edukasi yang dapat menjangkau pelajar maupun wisatawan.
Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat wisata sejarah, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran budaya yang relevan dengan perkembangan zaman.
Edukasi Generasi Muda tentang Budaya Material
Salah satu perhatian utama Menteri Kebudayaan adalah rendahnya ketertarikan generasi muda terhadap benda-benda budaya material.
Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, penggunaan surat, perangko, maupun dokumen fisik memang semakin berkurang. Namun, menurut pemerintah, kondisi tersebut tidak boleh menghilangkan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, edukasi kepada Generasi Z dipandang sebagai langkah penting agar mereka tetap mengenal sejarah bangsa melalui benda-benda autentik yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Budaya material mencakup berbagai objek fisik yang memiliki nilai budaya, seperti uang, perangko, kartu pos, meterai, dokumen resmi, hingga benda peninggalan sejarah lainnya.
Melalui pendekatan yang lebih kreatif, pemerintah berharap generasi muda dapat memahami bahwa setiap benda tersebut menyimpan cerita mengenai perkembangan ekonomi, komunikasi, pemerintahan, hingga perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Filateli Didorong Kembali Menjadi Hobi yang Edukatif
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan juga mengajak masyarakat untuk melihat filateli dari sudut pandang yang lebih modern.
Menurutnya, mengoleksi perangko bukan lagi sekadar aktivitas nostalgia, melainkan dapat menjadi sarana mempelajari sejarah, seni, budaya, hingga perkembangan suatu negara.
Untuk meningkatkan minat masyarakat, pemerintah membuka peluang menghadirkan berbagai produk koleksi baru yang lebih menarik bagi kalangan muda.
Beberapa gagasan yang mengemuka antara lain:
- Merchandise museum bertema sejarah Indonesia.
- Paspor museum yang dapat diberi cap setiap mengunjungi museum.
- Kartu pos bergambar koleksi budaya.
- Souvenir sheet edisi khusus.
- Produk filateli dengan desain yang lebih modern.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman baru sehingga aktivitas mengoleksi benda budaya menjadi lebih menarik dan dekat dengan gaya hidup generasi sekarang.
PERURI Siap Dukung Pengamanan Sertifikasi Kebudayaan
Direktur Utama PERURI, Teguh Arief Indratmoko, menyatakan kesiapan perusahaan untuk mendukung berbagai program Kementerian Kebudayaan.
Salah satu bidang yang menjadi fokus adalah teknologi security printing atau percetakan berpengaman tinggi.
Teknologi tersebut dinilai sangat penting dalam penerbitan berbagai dokumen resmi di bidang kebudayaan agar terhindar dari pemalsuan.
Beberapa dokumen yang berpotensi menggunakan sistem keamanan PERURI meliputi:
- Sertifikat Cagar Budaya Nasional.
- Registrasi museum.
- Dokumen penghargaan kebudayaan.
- Sertifikat resmi lainnya yang diterbitkan pemerintah.
Dengan pengalaman panjang dalam mencetak uang negara, paspor, pita cukai, meterai, dan berbagai dokumen keamanan lainnya, PERURI dinilai memiliki kompetensi yang memadai untuk mendukung sistem sertifikasi budaya yang lebih aman dan terpercaya.
Kolaborasi Lintas Instansi Dinilai Sangat Penting
Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat dari Kementerian Kebudayaan maupun PERURI.
Dari pihak kementerian hadir Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Direktur Permuseuman dan Sejarah Agus Mulyana, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin, serta beberapa pejabat lainnya.
Sementara dari PERURI turut hadir Direktur SDM, Teknologi dan Informasi Gandung Anggoro Murdani serta jajaran Corporate Secretary.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kerja sama yang dirancang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh aspek pengelolaan museum, pelindungan benda budaya, edukasi publik, hingga pemanfaatan teknologi keamanan dokumen.
Upaya Melestarikan Warisan Budaya Nasional
Menutup pertemuan, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah semata. Sinergi dengan berbagai lembaga, termasuk BUMN seperti PERURI, diperlukan agar upaya menjaga warisan budaya dapat berjalan lebih efektif.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap benda-benda bersejarah yang selama ini mulai terlupakan akibat perkembangan teknologi digital.
Selain memperkuat tata kelola museum, kerja sama ini juga membuka peluang lahirnya berbagai inovasi edukasi budaya yang lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi masa kini.
Apabila seluruh rencana tersebut dapat direalisasikan, Indonesia tidak hanya memiliki sistem pelindungan budaya yang semakin kuat, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang lebih dekat dengan masyarakat. Dengan demikian, budaya material seperti uang, perangko, meterai, dan dokumen bersejarah tidak hanya tersimpan sebagai koleksi museum, tetapi tetap hidup sebagai bagian penting dari identitas dan perjalanan bangsa Indonesia.