Minat Cari Rumah Naik 13 Persen, Tapi Transaksi Masih Lesu, Ini Penyebabnya

Minat masyarakat Indonesia untuk mencari rumah terus menunjukkan peningkatan sepanjang semester pertama 2026. Namun, tren tersebut belum diikuti dengan lonjakan transaksi pembelian. Banyak calon pembeli masih memilih menunda keputusan karena mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kenaikan biaya pembangunan.

Temuan tersebut terungkap dalam riset terbaru Pinhome yang menunjukkan pencarian properti meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, peningkatan aktivitas pencarian belum mampu mendorong penjualan rumah secara signifikan.

CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan kondisi pasar properti saat ini memang masih mengalami perlambatan. Menurutnya, situasi tersebut sudah mulai terlihat sejak awal tahun dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang membuat masyarakat lebih berhati-hati sebelum membeli hunian.

“Permintaan memang masih melambat pada semester pertama 2026. Kondisi ini sebenarnya sudah terlihat dan kami juga merasakan tanda-tandanya,” ujar Dara dalam konferensi pers bertajuk Tren Properti: Hunian Sebagai Simbol Peningkatan Kualitas Hidup di Jakarta.

Kondisi Ekonomi Membuat Pembeli Lebih Selektif

Perlambatan transaksi properti tidak terjadi tanpa alasan. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih berlangsung di sejumlah sektor membuat banyak keluarga memilih mengutamakan kebutuhan pokok dibandingkan membeli rumah.

Di sisi lain, biaya pembangunan juga terus meningkat. Harga material konstruksi mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Bukan hanya bahan bangunan, biaya instalasi, kabel, hingga upah tenaga kerja ikut melonjak sehingga harga rumah baru menjadi semakin mahal.

Cuaca ekstrem yang terjadi di berbagai wilayah juga menjadi faktor lain yang ikut memengaruhi industri properti. Kondisi tersebut berdampak pada proses pembangunan sekaligus membuat konsumen lebih berhati-hati dalam menentukan lokasi tempat tinggal.

Akibat berbagai faktor tersebut, banyak masyarakat masih sebatas melakukan survei harga, membandingkan lokasi, hingga mencari informasi melalui platform digital tanpa langsung melakukan transaksi pembelian.

Penjualan Rumah di Pasar Primer Turun Tajam

Gambaran tersebut sejalan dengan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia. Data terbaru menunjukkan penjualan rumah di pasar primer mengalami penurunan hingga 25,67 persen secara tahunan.

Penurunan ini menunjukkan bahwa pengembang masih menghadapi tantangan besar dalam memasarkan proyek-proyek baru. Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, konsumen lebih memilih menunggu situasi ekonomi membaik sebelum mengambil keputusan jangka panjang seperti membeli rumah.

Bagi sebagian masyarakat, kepastian pendapatan kini menjadi pertimbangan utama. Meski kebutuhan memiliki rumah tetap tinggi, keputusan membeli masih ditunda hingga kondisi keuangan dianggap lebih aman.

Rumah Siap Huni Semakin Menjadi Pilihan

Di tengah perlambatan pasar, tren menarik justru terlihat pada meningkatnya minat terhadap rumah siap huni atau rumah sekunder. Jenis properti ini dinilai lebih menarik karena dapat langsung ditempati tanpa harus menunggu proses pembangunan yang memakan waktu.

Selain itu, harga rumah sekunder dinilai lebih kompetitif dibandingkan rumah baru yang terdampak kenaikan biaya konstruksi.

Menurut Dara, banyak pengembang saat ini juga memilih menghabiskan stok rumah yang sudah tersedia dibandingkan memulai proyek baru.

Langkah tersebut dianggap lebih realistis karena biaya pembangunan terus meningkat. Kenaikan harga material, biaya instalasi, hingga upah pekerja membuat pengembang harus lebih berhitung sebelum meluncurkan proyek perumahan baru.

Strategi mengurangi inventori juga menjadi cara untuk menjaga arus kas perusahaan di tengah permintaan yang belum kembali normal.

Kawasan Penyangga Semakin Dilirik

Selain rumah siap huni, kawasan penyangga Jakarta juga semakin menarik perhatian masyarakat. Faktor harga yang lebih terjangkau dipadukan dengan akses transportasi yang semakin baik menjadi alasan utama meningkatnya minat terhadap wilayah tersebut.

Bekasi menjadi salah satu daerah yang mencatat kenaikan jumlah pencarian properti. Data Pinhome menunjukkan porsi pencarian rumah di Kota Bekasi meningkat dari 11 persen menjadi 12 persen.

Sementara itu, Kabupaten Bekasi juga mengalami kenaikan dari 6 persen menjadi 7 persen.

Pertumbuhan ini tidak lepas dari hadirnya infrastruktur transportasi seperti LRT Jabodebek yang mempermudah mobilitas menuju Jakarta dan sekitarnya.

Dengan waktu tempuh yang semakin efisien, masyarakat mulai mempertimbangkan tinggal di kawasan penyangga karena dapat memperoleh rumah dengan harga lebih terjangkau sekaligus luas bangunan yang lebih besar dibandingkan kawasan pusat kota.

Infrastruktur Jadi Penentu Pergerakan Pasar

Perkembangan jaringan transportasi massal kini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pertumbuhan pasar properti. Kawasan yang memiliki akses langsung ke stasiun LRT, KRL, maupun jalan tol cenderung mengalami peningkatan minat dari calon pembeli.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mempertimbangkan harga rumah, tetapi juga kemudahan akses menuju tempat kerja, sekolah, maupun pusat aktivitas lainnya.

Selama harga properti di pusat kota terus meningkat, wilayah penyangga diperkirakan masih menjadi alternatif utama bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah pertama.

Meski transaksi properti masih belum menunjukkan pemulihan signifikan, tingginya aktivitas pencarian memberi sinyal bahwa kebutuhan hunian tetap besar. Jika kondisi ekonomi mulai membaik, tekanan inflasi mereda, dan daya beli masyarakat kembali pulih, minat yang saat ini masih sebatas pencarian berpotensi berubah menjadi transaksi nyata dalam beberapa waktu mendatang.