Apa Itu Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka? Ini Penerapannya Sesuai Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026

Penerapan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam semakin mendapat perhatian dalam proses pembelajaran di sekolah pada 2026. Pendekatan ini mulai menjadi bagian penting dalam pembelajaran setelah pemerintah memperbarui Standar Proses melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 yang berlaku sejak 5 Januari 2026.

Bagi guru dan satuan pendidikan, perubahan tersebut cukup penting karena proses belajar tidak lagi cukup hanya mengejar penyelesaian materi. Murid didorong memahami tujuan belajar, menghubungkan materi dengan kehidupan nyata, mengaplikasikan pengetahuan, hingga mampu melakukan refleksi terhadap apa yang sudah dipelajari.

Lantas, apa sebenarnya metode Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka dan bagaimana penerapannya di kelas? Pembelajaran Mendalam bukan kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka. Pendekatan ini menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dengan pengalaman belajar yang bergerak dari memahami, mengaplikasi, hingga merefleksi.

Deep Learning Bukan Kurikulum Baru

Hal pertama yang perlu diluruskan adalah posisi Deep Learning dalam kebijakan pendidikan. Istilah tersebut tidak berarti pemerintah mengganti Kurikulum Merdeka dengan sebuah kurikulum bernama Kurikulum Deep Learning.

Kemendikdasmen menggunakan istilah Pembelajaran Mendalam sebagai pendekatan pembelajaran. Pembelajaran Mendalam didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan dengan menekankan penciptaan suasana dan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, serta olah raga secara holistik dan terpadu.

Dengan demikian, Deep Learning lebih tepat dipahami sebagai cara mengembangkan kualitas proses pembelajaran. Guru tidak sekadar memindahkan informasi kepada murid, tetapi menciptakan pengalaman agar pengetahuan benar-benar dipahami dan dapat digunakan.

Baca juga: Lulusan Sarjana Benarkah Lebih Sulit Kerja daripada Lulusan SD? Data BPS Mengungkap Faktanya

Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 Mengatur Standar Proses Baru

Pemerintah menetapkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Peraturan tersebut ditetapkan pada 2 Januari 2026 dan mulai berlaku pada 5 Januari 2026.

Regulasi ini menggantikan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses. Pemerintah menilai standar sebelumnya perlu disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang relevan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial.

Secara garis besar, standar proses dalam aturan baru tersebut mencakup tiga bagian utama, yakni perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian proses pembelajaran.

Perubahan tersebut penting bagi guru karena standar proses menjadi salah satu acuan dalam merencanakan hingga mengevaluasi kegiatan belajar di sekolah.

Tiga Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam

Penerapan Pembelajaran Mendalam bertumpu pada tiga prinsip yang saling berhubungan. Ketiganya adalah berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.

Prinsip tersebut tidak sekadar berbicara mengenai suasana kelas yang menyenangkan. Fokusnya jauh lebih luas karena menyentuh keterlibatan murid, hubungan materi dengan kehidupan nyata, serta kemampuan murid memahami proses belajarnya sendiri.

1. Berkesadaran

Pembelajaran berkesadaran menempatkan murid sebagai peserta aktif dalam proses belajar. Murid perlu mengetahui apa yang sedang dipelajari, mengapa materi tersebut penting, serta tujuan yang ingin dicapai.

Kesadaran tersebut diharapkan dapat mendorong motivasi belajar dari dalam diri. Murid bukan belajar hanya karena ada tugas, ujian, atau nilai, tetapi mulai memahami manfaat dari proses yang sedang dijalani.

Guru dalam kondisi ini berperan membantu murid mengenali tujuan pembelajaran dan strategi yang dapat digunakan untuk mencapainya.

2. Bermakna

Pembelajaran menjadi bermakna ketika pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi yang harus dihafalkan. Murid perlu dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya serta menerapkannya dalam situasi nyata.

Misalnya, ketika mempelajari persentase dalam matematika, pembelajaran tidak harus berhenti pada rumus. Guru dapat menghubungkannya dengan diskon barang, perhitungan tabungan, data penduduk, atau persoalan sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Cara tersebut membuat murid memahami alasan sebuah konsep perlu dipelajari.

3. Menggembirakan

Menggembirakan bukan berarti setiap pembelajaran harus dipenuhi permainan. Maknanya adalah terciptanya suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan mampu membangun motivasi.

Murid mendapatkan ruang untuk terlibat dan merasa kontribusinya dihargai. Kesalahan juga dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang selalu membuat murid takut mencoba.

Pembelajaran seperti ini diharapkan membangun hubungan emosional yang positif terhadap proses belajar sehingga murid lebih mudah memahami, mengingat, dan menggunakan pengetahuan.

Murid Tidak Cukup Hanya Memahami Materi

Salah satu bagian menarik dari Pembelajaran Mendalam terletak pada pengalaman belajar yang dirancang untuk murid. Proses tersebut mencakup memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Tahap memahami menjadi fondasi agar murid memiliki pengetahuan dan konsep yang cukup. Namun pembelajaran tidak berhenti ketika murid mampu menjawab pertanyaan mengenai materi.

Pengetahuan kemudian perlu diaplikasikan dalam konteks yang relevan. Setelah itu, murid mendapatkan kesempatan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajarnya.

Pola tersebut membuat pembelajaran bergerak lebih jauh daripada sekadar menghafalkan materi untuk menghadapi ujian.

Baca juga: Aturan Baru Wajib Belajar 13 Tahun dan Anggaran PIP untuk Anak TK Mulai 2026

Memahami, Mengaplikasi dan Merefleksi Tidak Harus Selesai Sekali Pertemuan

Ada anggapan bahwa tiga pengalaman belajar dalam Pembelajaran Mendalam harus selalu diselesaikan dalam satu kali pertemuan. Kemendikdasmen telah meluruskan pemahaman tersebut.

Tahapan memahami, mengaplikasi, dan merefleksi dapat dirancang secara bertahap dalam beberapa sesi pembelajaran. Guru dapat menyesuaikannya dengan karakteristik materi, kebutuhan murid, dan kondisi pembelajaran.

Artinya, Pembelajaran Mendalam bukan berarti guru harus memasukkan seluruh aktivitas sekaligus ke dalam satu jam pelajaran.

Fleksibilitas tersebut menjadi penting karena kedalaman pembelajaran justru membutuhkan waktu yang cukup agar murid benar-benar menguasai konsep.

Contoh Penerapan Deep Learning di Kelas

Penerapan Pembelajaran Mendalam dapat dilakukan tanpa harus mengubah seluruh aktivitas belajar menjadi proyek besar. Guru dapat memulainya dari cara menyampaikan tujuan pembelajaran, memilih persoalan yang dekat dengan kehidupan murid, dan memberikan kesempatan untuk melakukan refleksi.

Sebagai contoh dalam mata pelajaran IPA, murid sedang mempelajari pencemaran lingkungan.

Guru dapat memulai dengan menunjukkan kondisi lingkungan yang dekat dengan kehidupan murid, seperti sampah di sungai atau saluran air. Murid kemudian diminta mengidentifikasi penyebab dan dampaknya berdasarkan konsep yang sedang dipelajari.

Setelah memahami konsep, murid dapat mengaplikasikan pengetahuan tersebut dengan mengamati lingkungan sekitar sekolah atau rumah.

Pada bagian akhir, murid dapat melakukan refleksi mengenai penyebab masalah, solusi yang memungkinkan dilakukan, serta perubahan perilaku yang dapat dimulai dari dirinya sendiri.

Satu materi akhirnya tidak hanya menghasilkan hafalan mengenai definisi pencemaran lingkungan, tetapi juga pemahaman mengenai persoalan nyata.

Peran Guru Justru Semakin Penting

Pembelajaran Mendalam tidak mengurangi peran guru. Sebaliknya, guru memiliki posisi penting dalam merancang pengalaman belajar yang mampu membuat murid berpikir dan terlibat.

Guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, kondisi awal murid, karakteristik mata pelajaran, lingkungan pembelajaran, hingga bentuk asesmen yang digunakan.

Peran tersebut berbeda dengan pola pembelajaran yang hanya berpusat pada penyampaian materi. Guru menjadi perancang sekaligus fasilitator pengalaman belajar.

Kemampuan memberikan pertanyaan yang tepat juga menjadi penting. Pertanyaan tidak hanya menguji apakah murid ingat terhadap sebuah informasi, tetapi dapat diarahkan untuk mengetahui bagaimana murid menggunakan pengetahuan tersebut.

Teknologi Bukan Syarat Utama Deep Learning

Istilah Deep Learning sering diasosiasikan dengan teknologi dan kecerdasan buatan. Dalam konteks kebijakan pendidikan Indonesia, keduanya perlu dibedakan.

Pembelajaran Mendalam yang dimaksud Kemendikdasmen merupakan pendekatan pedagogis, bukan teknologi deep learning yang menjadi bagian dari kecerdasan buatan.

Pemanfaatan teknologi digital memang menjadi salah satu bagian yang dapat mendukung kerangka Pembelajaran Mendalam. Guru dan murid dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Namun, kelas tidak harus memiliki perangkat teknologi canggih agar dapat menjalankan Pembelajaran Mendalam.

Guru tetap dapat menciptakan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan menggunakan lingkungan sekitar serta sumber belajar sederhana.

Empat Kerangka yang Mendukung Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran Mendalam juga didukung kerangka yang membantu guru merancang proses belajar. Kerangka tersebut mencakup praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan digital.

Praktik pedagogis berkaitan dengan strategi yang digunakan guru dalam membantu murid mencapai tujuan belajar. Lingkungan pembelajaran berkaitan dengan terciptanya ruang belajar yang mendukung keterlibatan dan perkembangan murid.

Kemitraan pembelajaran membuka kemungkinan keterlibatan berbagai pihak. Pembelajaran dapat terhubung dengan orang tua, masyarakat, maupun mitra lain yang relevan.

Sementara pemanfaatan digital digunakan untuk membantu membuat perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembelajaran menjadi lebih efektif.

Olah Pikir Bukan Satu-satunya Target Pembelajaran

Bagian yang cukup menarik dari konsep Pembelajaran Mendalam adalah pengembangan murid tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik.

Kemendikdasmen menempatkan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga sebagai bagian yang dikembangkan secara holistik dan terpadu.

Olah pikir berkaitan dengan kemampuan memahami, menganalisis, bernalar kritis, dan menyelesaikan persoalan. Namun pendidikan juga perlu memperhatikan nilai, karakter, kepekaan, kreativitas, serta kondisi fisik murid.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang berhasil diingat murid.

Penilaian Tidak Hanya Melihat Nilai Akhir

Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 juga memberikan perhatian terhadap penilaian proses pembelajaran. Penilaian dilakukan untuk mengetahui kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

Hasil penilaian dapat digunakan guru sebagai dasar untuk melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran berikutnya.

Hal tersebut sejalan dengan karakter Pembelajaran Mendalam yang menempatkan refleksi sebagai bagian penting dari pengalaman belajar.

Guru tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memperhatikan bagaimana proses belajar berlangsung dan apakah kegiatan yang dirancang benar-benar membantu murid mencapai tujuan.

Apakah Guru Harus Mengubah Modul Ajar?

Penerapan Pembelajaran Mendalam bukan berarti semua perangkat pembelajaran yang sebelumnya digunakan harus langsung dibuang dan dibuat dari awal.

Hal yang lebih penting adalah memastikan perencanaan pembelajaran mampu menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan murid dan tujuan yang ingin dicapai.

Guru dapat meninjau kembali kegiatan yang selama ini digunakan. Aktivitas yang terlalu berorientasi pada hafalan dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang memberi kesempatan murid memahami konsep, menggunakannya dalam konteks tertentu, kemudian melakukan refleksi.

Dengan demikian, perubahan terbesar tidak selalu terletak pada format dokumen. Perubahan justru berada pada kualitas pengalaman belajar yang dirancang guru.

Deep Learning Bukan Berarti Pembelajaran Harus Sulit

Miskonsepsi lain yang perlu dihindari adalah menganggap Pembelajaran Mendalam berarti materi harus dibuat lebih sulit.

Kedalaman tidak sama dengan kesulitan.

Pembelajaran dikatakan mendalam ketika murid mampu memahami konsep, menghubungkannya dengan pengetahuan lain, menerapkannya, serta melakukan refleksi.

Materinya bisa sederhana, tetapi pengalaman belajarnya mendalam.

Sebaliknya, memberikan banyak soal sulit belum tentu menghasilkan Pembelajaran Mendalam apabila murid hanya mengikuti rumus tanpa memahami alasan dan penerapannya.

Tiga Prinsip Tidak Harus Dilaksanakan Secara Berurutan

Kemendikdasmen juga telah meluruskan pemahaman bahwa berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan harus dilaksanakan seperti tiga tahapan yang terpisah.

Ketiganya dapat muncul secara bersamaan dalam sebuah kegiatan pembelajaran.

Guru, misalnya, dapat membuka pelajaran menggunakan persoalan kontekstual kemudian mengajak murid berdiskusi menentukan cara menyelesaikannya. Dalam kegiatan tersebut, unsur berkesadaran dan bermakna dapat muncul bersamaan.

Begitu pula unsur menggembirakan. Suasana positif tidak harus ditempatkan sebagai aktivitas khusus, tetapi dapat hadir sepanjang pembelajaran melalui interaksi yang menghargai keterlibatan murid.

Pemahaman tersebut membuat penerapan Pembelajaran Mendalam menjadi lebih fleksibel dan tidak berubah menjadi sekadar daftar aktivitas yang harus dicentang guru.

Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 Berlaku untuk Jenjang Mana?

Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 memiliki cakupan luas karena mengatur Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Artinya, prinsip dalam standar proses tersebut tidak hanya relevan untuk satu jenjang tertentu.

Implementasinya tentu perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan murid. Pembelajaran Mendalam di PAUD tidak dapat disamakan begitu saja dengan pembelajaran di SMP atau SMA.

Guru tetap perlu mempertimbangkan karakteristik peserta didik ketika merancang kegiatan.

Pembelajaran Mendalam Mengubah Fokus dari “Sudah Diajarkan” Menjadi “Sudah Dipahami”

Perubahan paling penting sebenarnya bukan terletak pada istilah Deep Learning. Perbedaannya dapat terlihat dari cara melihat keberhasilan pembelajaran.

Dalam pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian materi, perhatian mudah berhenti pada pertanyaan: apakah seluruh materi sudah diajarkan?

Pembelajaran Mendalam mendorong pertanyaan yang berbeda: apakah murid benar-benar memahami dan mampu menggunakan apa yang sudah dipelajari?

Perbedaan sederhana tersebut memiliki dampak cukup besar.

Guru tidak hanya mengejar banyaknya materi yang selesai, tetapi perlu memastikan kegiatan belajar menghasilkan pemahaman. Murid juga tidak hanya dituntut mengingat, tetapi diberi kesempatan menghubungkan, mencoba, menganalisis, dan merefleksi.

Di sinilah Pembelajaran Mendalam menjadi relevan dengan tujuan peningkatan kualitas pendidikan.

Jadi, Apa Itu Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka?

Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui pengembangan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara terpadu.

Pembelajaran Mendalam bukan kurikulum baru dan bukan pula teknologi kecerdasan buatan. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini digunakan untuk membuat pengalaman belajar tidak berhenti pada hafalan dan penyelesaian materi.

Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 memperbarui Standar Proses pada PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta menggantikan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022.

Bagi guru, inti penerapannya bukan sekadar mengganti istilah pada modul ajar. Perubahan yang lebih penting adalah merancang pembelajaran agar murid mengetahui tujuan belajarnya, memahami materi secara utuh, mampu menggunakannya dalam kehidupan nyata, dan merefleksikan pengalaman belajar.

Dengan pemahaman tersebut, Deep Learning seharusnya tidak dipandang sebagai tambahan beban administrasi guru. Pendekatan ini justru mengarahkan proses belajar kembali kepada tujuan utamanya: membuat murid benar-benar belajar, bukan sekadar menyelesaikan materi.