Kebijakan Baru Kemenkeu dan Kemendikdasmen: Pasang Papan Digital IFP di Ribuan Kelas

Pemerintah terus memperluas penggunaan papan digital di sekolah melalui program Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital. Pada 2026, jumlah perangkat yang disiapkan meningkat tajam setelah pemerintah menargetkan tambahan IFP di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Program tersebut menjadi bagian dari percepatan digitalisasi pembelajaran yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sebelumnya, pemerintah telah mendistribusikan 288.865 unit IFP pada 2025, sementara target 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 886.595 unit.

Di balik penambahan perangkat tersebut terdapat proses penganggaran pemerintah. Pada Maret 2026, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menyampaikan bahwa rencana penyediaan tiga IFP per sekolah masih dibahas bersama Kementerian Keuangan karena membutuhkan tambahan anggaran.

Tiga IFP per sekolah mulai disiapkan

Rencana penambahan IFP menjadi salah satu bagian penting dalam kebijakan digitalisasi pembelajaran 2026. Kemendikdasmen menyampaikan bahwa setiap sekolah secara bertahap akan memperoleh tambahan perangkat digital untuk memperluas penggunaan teknologi di ruang kelas.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti pada Februari 2026 menyebut setiap satuan pendidikan direncanakan memperoleh tiga IFP tambahan yang mulai diupayakan distribusinya pada 2026. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari distribusi perangkat yang sudah dilakukan sebelumnya.

Dengan penambahan tersebut, penggunaan papan interaktif tidak lagi hanya mengandalkan satu perangkat di sekolah. Semakin banyak kelas yang dapat menggunakan perangkat secara bergantian maupun secara langsung dalam kegiatan pembelajaran.

Baca juga: Prefill Dapodik 2027: Cara Download, Syarat, dan Langkah Memasang Data Sekolah

Kemenkeu berperan dalam pembahasan anggaran

Penyebutan Kementerian Keuangan dalam kebijakan IFP berkaitan dengan kebutuhan anggaran untuk pengadaan tambahan perangkat. Pada awal Maret 2026, Kemendikdasmen menyatakan rencana tiga IFP per sekolah masih dalam pembahasan bersama Kemenkeu.

Suharti menjelaskan tambahan tersebut akan berdampak pada anggaran Kemendikdasmen. Pembahasan dilakukan agar kebutuhan program dapat disesuaikan dengan anggaran pemerintah.

Karena itu, istilah “kebijakan Kemenkeu dan Kemendikdasmen” perlu dipahami sebagai proses kolaborasi dalam sisi pendidikan dan penganggaran. Kemendikdasmen menjalankan program digitalisasi pembelajaran, sementara aspek anggaran pemerintah harus melalui proses pengelolaan keuangan negara.

Distribusi IFP sudah mencapai ratusan ribu unit

Program papan digital sebenarnya bukan baru dimulai pada 2026. Pemerintah telah menyalurkan ratusan ribu IFP pada tahun sebelumnya.

Kemendikdasmen menyebut distribusi IFP pada 2025 mencapai 288.865 unit. Pada 2026, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga sekitar 886.595 unit.

Kemendikdasmen juga menyampaikan bahwa distribusi IFP sebelumnya telah mencapai lebih dari 288 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Setelah perangkat terdistribusi, perhatian pemerintah mulai diarahkan pada pemanfaatannya agar tidak berhenti sebagai fasilitas yang hanya tersedia di ruang kelas.

IFP bukan sekadar pengganti papan tulis

IFP dirancang sebagai perangkat pembelajaran interaktif yang memungkinkan guru menampilkan berbagai materi secara langsung di layar. Guru dapat memanfaatkan visual, video, materi digital dan berbagai sumber pembelajaran untuk membuat penyampaian materi lebih mudah dipahami.

Di sejumlah sekolah, penggunaan IFP juga sudah menjadi bagian dari kegiatan belajar sehari-hari. Kemendikdasmen mencatat pengalaman sekolah yang menggunakan perangkat tersebut untuk membuat pembelajaran lebih interaktif dan mendorong keterlibatan siswa.

Perbedaannya dengan papan tulis biasa terletak pada kemampuan perangkat untuk menggabungkan fungsi layar, komputer dan media pembelajaran dalam satu perangkat. Guru tidak hanya menulis materi, tetapi juga dapat menampilkan objek visual yang mendukung penjelasan.

Baca juga: PTK Datadik Kemendikdasmen 2026, Begini Cara Mengakses Data Guru

Guru ikut menentukan keberhasilan program

Jumlah perangkat yang besar belum otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Guru tetap menjadi faktor utama karena teknologi hanya berfungsi maksimal ketika digunakan sesuai kebutuhan pembelajaran.

Kemendikdasmen bahkan telah menyiapkan pelatihan mandiri mengenai pemanfaatan Papan Interaktif Digital melalui Ruang GTK Rumah Pendidikan. Program tersebut ditujukan agar guru tidak sekadar menggunakan IFP sebagai layar, tetapi memahami pemanfaatannya sebagai alat pedagogi.

Pendekatan ini penting karena setiap mata pelajaran memiliki kebutuhan berbeda. IFP dapat digunakan untuk menampilkan simulasi, video pembelajaran, gambar, soal, bahan presentasi maupun aktivitas interaktif yang membuat siswa lebih aktif.

Sekolah di daerah 3T juga menjadi perhatian

Pemerintah tidak hanya mengarahkan digitalisasi pembelajaran ke sekolah di wilayah perkotaan. Pemanfaatan IFP juga didorong di daerah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T.

Pada Maret 2026, Kemendikdasmen menerjunkan 150 alumni LPDP ke 150 sekolah dasar di wilayah 3T dan daerah khusus melalui program Alumni Pejuang Digital. Mereka membantu sekolah agar perangkat IFP yang sudah diterima dapat digunakan secara maksimal.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa tantangan program bukan lagi sebatas mendistribusikan perangkat. Sekolah juga membutuhkan pendampingan agar guru memahami cara menggunakan teknologi yang tersedia.

Dampaknya mulai terlihat di ruang kelas

Pengalaman sejumlah sekolah menunjukkan bahwa IFP dapat mengubah suasana pembelajaran menjadi lebih interaktif. Guru bisa menghadirkan gambar dan video dengan tampilan besar, sementara siswa dapat berinteraksi langsung dengan materi yang ditampilkan.

Kemendikdasmen mencatat penggunaan IFP di beberapa sekolah membantu pembelajaran literasi dan numerasi serta mendukung persiapan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik.

Di sekolah lain, IFP digunakan untuk pembelajaran matematika, sains hingga pendidikan jasmani. Pemanfaatan video dan tampilan visual menjadi salah satu keunggulan yang paling mudah dirasakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Targetnya bukan hanya memasang perangkat

Ada persoalan yang perlu diperhatikan ketika pemerintah memasang perangkat digital dalam jumlah besar, yakni memastikan perangkat tersebut benar-benar digunakan.

Kemendikdasmen pada April 2026 menegaskan bahwa setelah IFP terdistribusi ke lebih dari 288 ribu satuan pendidikan, fokus berikutnya adalah memperkuat pemanfaatannya. Program Alumni Pejuang Digital menjadi salah satu cara untuk membantu sekolah, terutama di wilayah 3T.

Dengan demikian, keberhasilan program tidak cukup diukur dari berapa banyak IFP yang dikirim ke sekolah. Penggunaan secara rutin, kemampuan guru, kesiapan listrik dan internet, serta kesesuaian perangkat dengan kebutuhan pembelajaran juga menjadi bagian penting.

Gambaran program IFP 2025 dan 2026

Perkembangan distribusi IFP dapat dilihat dari data yang disampaikan pemerintah berikut:

TahunJumlah IFPKeterangan
2025288.865 unitDistribusi nasional
2026Sekitar 886.595 unitTarget/proyeksi distribusi tambahan
20263 IFP per sekolahTambahan yang diupayakan pemerintah

Angka 886.595 unit merupakan proyeksi yang disampaikan Kemendikdasmen dalam perkembangan program 2026. Jumlah tersebut menunjukkan skala digitalisasi pembelajaran yang jauh lebih besar dibandingkan distribusi pada 2025.

Apa manfaat IFP bagi siswa?

Penggunaan papan digital dapat memberikan beberapa manfaat langsung dalam proses belajar. Materi yang sebelumnya hanya dijelaskan melalui teks dapat ditampilkan dalam bentuk gambar, animasi, video atau media interaktif.

Beberapa manfaat yang diharapkan antara lain:

  • Materi pelajaran lebih mudah ditampilkan secara visual.
  • Guru dapat mengakses sumber belajar secara langsung.
  • Siswa lebih mudah mengikuti materi yang membutuhkan gambar atau simulasi.
  • Pembelajaran dapat berlangsung lebih interaktif.
  • Guru memiliki lebih banyak pilihan media saat menjelaskan materi.
  • Materi dapat digunakan untuk mendukung literasi dan numerasi.

Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada bagaimana sekolah dan guru memanfaatkan perangkat. IFP bukan pengganti peran guru, melainkan sarana untuk memperkaya proses pembelajaran.

Sekolah perlu menyiapkan penggunaan IFP

Ketika perangkat semakin banyak masuk ke sekolah, kesiapan fasilitas menjadi perhatian penting. IFP membutuhkan sumber listrik dan kondisi ruang yang mendukung penggunaannya.

Selain itu, guru perlu mengetahui cara mengoperasikan perangkat dan mengintegrasikannya dengan materi pelajaran. Sekolah juga perlu memastikan perangkat dirawat dengan baik agar dapat digunakan dalam jangka panjang.

Pengalaman program 2025 menunjukkan bahwa distribusi perangkat perlu dilanjutkan dengan penguatan pemanfaatan. Karena itu, Kemendikdasmen tidak hanya mendistribusikan IFP, tetapi juga mendorong pelatihan dan pendampingan bagi guru.

Arah digitalisasi pembelajaran pada 2026

Program IFP menjadi bagian dari agenda digitalisasi pembelajaran yang lebih luas. Pemerintah tidak hanya berupaya menyediakan perangkat, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran yang memungkinkan guru dan siswa memanfaatkan teknologi secara lebih efektif.

Pada Februari 2026, Kemendikdasmen menyampaikan bahwa program IFP telah terdistribusi 100 persen ke ratusan ribu satuan pendidikan untuk tahap sebelumnya. Pemerintah kemudian melanjutkan distribusi perangkat pada 2026 dengan target yang lebih besar.

Artinya, kelas di berbagai daerah akan semakin banyak dilengkapi papan interaktif. Tantangan berikutnya adalah memastikan perangkat tersebut benar-benar menjadi bagian dari kegiatan belajar, bukan hanya menjadi fasilitas baru di dalam kelas.

Ribuan kelas akan semakin dekat dengan pembelajaran interaktif

Kebijakan penambahan IFP menunjukkan bahwa pemerintah sedang memperluas penggunaan teknologi pembelajaran dalam skala nasional. Kemendikdasmen menyiapkan tambahan perangkat, sementara kebutuhan anggaran dibahas bersama Kementerian Keuangan sebagai bagian dari proses pengelolaan anggaran pemerintah.

Dengan target sekitar 886.595 unit IFP pada 2026, digitalisasi ruang kelas memasuki tahap yang jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Keberhasilan program akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah papan digital yang terpasang, tetapi oleh kemampuan sekolah dan guru menjadikannya sebagai sarana pembelajaran yang benar-benar digunakan dan memberi manfaat bagi siswa.