Program KLIC 2026, Upaya Ditjen GTK Dongkrak Kompetensi Digital Guru

Transformasi pembelajaran kembali mendapat perhatian pemerintah melalui Program KLIC 2026. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menggandeng Gangwon State Office of Education, Republik Korea, untuk memperkuat kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi digital di ruang kelas.

Program ini melibatkan 24 guru terpilih dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. Kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan teknologi, tetapi diarahkan agar guru mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran yang bermakna dan berpusat pada murid.

KLIC 2026 menjadi menarik karena penguatan kompetensi digital guru kini berhadapan dengan kebutuhan yang semakin luas, mulai dari pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), pembelajaran mendalam, hingga koding. Di sisi lain, pemerataan kemampuan guru menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika teknologi pendidikan harus diterapkan pada sekolah dengan kondisi sarana dan akses yang berbeda-beda.

KLIC 2026 Bukan Sekadar Pelatihan Teknologi

KLIC merupakan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Republik Korea yang melibatkan Gangwon State Office of Education. Program ini dirancang untuk membantu guru mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi dalam pembelajaran sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman pendidikan antara kedua negara.

Nama KLIC dalam pelaksanaan kerja sama ini merujuk pada Korean e-Learning Improvement Cooperation. Program tersebut memiliki rekam jejak dalam pengembangan kompetensi guru Indonesia melalui pelatihan dan pengenalan praktik pembelajaran berbasis teknologi.

Pengalaman pelaksanaan sebelumnya menunjukkan bahwa program KLIC tidak berhenti pada penggunaan perangkat. Guru juga didorong untuk memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih menarik, membantu siswa memahami materi, serta memperluas sumber belajar.

Baca juga: PTK Datadik Kemendikdasmen 2026, Begini Cara Mengakses Data Guru

24 Guru Terpilih Ikuti Program KLIC 2026

Pelaksanaan KLIC 2026 di Indonesia melibatkan 24 guru terpilih yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan. Pesertanya mencakup guru SD, SMP, SMA, dan SMK sehingga pengalaman yang dibawa ke dalam program cukup beragam.

Keterlibatan lintas jenjang tersebut penting karena kebutuhan teknologi di setiap tingkat pendidikan tidak selalu sama. Guru sekolah dasar, misalnya, perlu mempertimbangkan karakteristik anak ketika menggunakan perangkat digital, sementara guru SMA dan SMK dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih kompleks dengan memanfaatkan teknologi dan AI.

Peserta juga tidak hanya ditempatkan sebagai penerima materi. Pengalaman yang diperoleh selama KLIC diharapkan dapat diterapkan kembali dalam pembelajaran dan memberikan dampak lebih luas kepada lingkungan pendidikan masing-masing.

Ditjen GTK Ingin Guru Lebih Siap Menghadapi Perubahan Teknologi

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menempatkan kompetensi digital sebagai bagian penting dalam menghadapi perubahan pembelajaran. Teknologi kini semakin banyak digunakan untuk mendukung proses belajar, sehingga guru perlu mempunyai kemampuan untuk memilih dan menggunakannya secara tepat.

Pandangan tersebut menjadi dasar mengapa peningkatan kemampuan guru tidak cukup hanya dilakukan melalui pengadaan perangkat. Laptop, tablet, layar interaktif, jaringan internet, dan berbagai fasilitas digital tidak akan memberikan dampak maksimal apabila guru belum memahami cara menggunakannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

KLIC mencoba menjawab persoalan tersebut dari sisi sumber daya manusia. Guru dibekali kemampuan dan pengalaman agar perangkat maupun teknologi yang tersedia dapat benar-benar digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Baca juga: Cara Menggunakan Layanan Pengaduan Perundungan (Bullying) Kemendikdasmen

Pembelajaran Mendalam, Koding, dan AI Ikut Menjadi Perhatian

KLIC 2026 juga berkaitan dengan arah kebijakan pendidikan yang sedang dikembangkan Kemendikdasmen. Keterlibatan guru pendidikan menengah dalam program tersebut mendukung perhatian pemerintah terhadap Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), Koding, dan Kecerdasan Artifisial (AI) di satuan pendidikan.

Hubungan ini menjadi penting karena penerapan teknologi di sekolah tidak cukup hanya mengajarkan siswa cara menggunakan aplikasi. Guru perlu memahami bagaimana teknologi tersebut ditempatkan dalam proses pembelajaran sehingga siswa tetap aktif berpikir, berdiskusi, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya.

AI juga menghadirkan tantangan baru bagi guru. Penggunaan teknologi kecerdasan artifisial perlu disertai pemahaman mengenai cara memeriksa informasi, menjaga etika, melindungi data, dan memastikan siswa tidak sekadar bergantung pada jawaban yang dihasilkan mesin.

Guru Tidak Hanya Belajar Menggunakan Perangkat

Salah satu hal yang menarik dari KLIC adalah penekanan pada integrasi teknologi dengan pembelajaran. Artinya, keberhasilan pelatihan tidak diukur hanya dari kemampuan guru membuka aplikasi atau menggunakan perangkat tertentu.

Teknologi harus mempunyai fungsi yang jelas dalam proses belajar. Misalnya, perangkat digital dapat digunakan untuk menghadirkan visualisasi yang sulit dijelaskan melalui buku, membuat simulasi, mengembangkan proyek kolaboratif, atau memberikan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Pendekatan tersebut membuat kompetensi digital guru menjadi lebih luas. Guru tidak hanya dituntut menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu mampu menentukan kapan teknologi memang dibutuhkan dan kapan pembelajaran konvensional justru lebih efektif.

Belajar dari Praktik Pendidikan Korea Selatan

Kerja sama dengan Gangwon State Office of Education memberikan kesempatan bagi guru Indonesia untuk melihat pengalaman pendidikan Korea Selatan. Kolaborasi internasional seperti KLIC dapat membuka kesempatan bagi peserta untuk mempelajari praktik pembelajaran digital dari negara yang telah mengembangkan pemanfaatan teknologi dalam pendidikan.

Pembelajaran dari negara lain tentu tidak berarti seluruh sistem pendidikan Korea Selatan dapat diterapkan begitu saja di Indonesia. Kondisi sekolah, budaya belajar, infrastruktur, karakter siswa, hingga kebijakan pendidikan setiap negara berbeda.

Nilai yang lebih penting adalah bagaimana guru dapat mengambil praktik yang relevan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Dengan cara tersebut, kerja sama internasional tidak berhenti sebagai pengalaman, tetapi menghasilkan pengetahuan yang dapat digunakan kembali di ruang kelas.

Baca juga: Panduan Memperbaiki Data NISN Siswa yang Tidak Terbaca di Sistem Dapodik

Mengapa Guru di Daerah Membutuhkan Penguatan Kompetensi Digital?

Kesenjangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan jumlah guru atau ketersediaan gedung sekolah. Kemampuan memanfaatkan teknologi juga menjadi bagian dari tantangan pemerataan kualitas pembelajaran.

Sekolah yang mempunyai fasilitas digital lengkap belum tentu menghasilkan pembelajaran digital yang baik jika kemampuan guru belum merata. Sebaliknya, guru yang kreatif terkadang dapat menciptakan pembelajaran menarik dengan fasilitas sederhana selama memahami tujuan dan cara menggunakan teknologi secara tepat.

Kondisi tersebut membuat peningkatan kompetensi guru menjadi sama pentingnya dengan penyediaan perangkat. Program KLIC dapat dilihat sebagai salah satu contoh bahwa pengembangan teknologi pendidikan perlu berjalan bersama pengembangan kapasitas pendidik.

Tantangan Guru Terpencil Bukan Sekadar Soal Internet

Ketika membicarakan guru di daerah terpencil, persoalan akses internet memang sering menjadi perhatian. Namun, masalahnya jauh lebih luas.

Ketersediaan listrik, perangkat, biaya pemeliharaan, kemampuan teknis, dukungan sekolah, hingga kesempatan mengikuti pelatihan juga dapat memengaruhi kemampuan guru memanfaatkan teknologi. Guru yang mengajar jauh dari pusat kota bisa saja memiliki motivasi tinggi, tetapi kesempatan mendapatkan pelatihan berkualitas belum tentu sama dengan guru di wilayah perkotaan.

Karena itu, penguatan kompetensi digital sebaiknya tidak berhenti pada program yang hanya dapat diikuti oleh kelompok guru tertentu. Pengetahuan yang diperoleh peserta KLIC perlu dibagikan kembali agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak pendidik.

KLIC Dapat Menjadi Penghubung antara Pelatihan dan Perubahan di Kelas

Program pelatihan sering menghadapi tantangan klasik: materi bagus tetapi tidak selalu diterapkan setelah kegiatan berakhir. KLIC memiliki peluang memberikan dampak lebih besar apabila pengalaman peserta diteruskan ke sekolah dan komunitas guru.

Peserta dapat berperan sebagai penggerak yang membagikan pengetahuan kepada guru lain. Forum seperti KKG dan MGMP dapat menjadi tempat untuk berbagi pengalaman, mencoba praktik baru, serta mendiskusikan kendala ketika teknologi diterapkan dalam pembelajaran.

Dengan begitu, keberhasilan KLIC tidak hanya diukur dari berapa guru yang mengikuti pelatihan, tetapi juga dari berapa banyak guru lain yang akhirnya memperoleh manfaat dari pengalaman tersebut.

Peserta Terbaik Akan Mendapat Pelatihan Lanjutan

Program KLIC 2026 juga memberikan kesempatan pengembangan lanjutan bagi peserta dengan performa terbaik. Peserta terbaik akan dipilih untuk mengikuti advanced training di Republik Korea pada 2026.

Kesempatan tersebut menjadi bentuk pengembangan lanjutan bagi guru yang dinilai mampu mengikuti program secara optimal. Pengalaman yang lebih mendalam diharapkan dapat memperkuat kemampuan peserta dalam mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi.

Model seperti ini membuat pelatihan tidak berhenti pada satu kegiatan. Ada peluang bagi guru untuk terus mengembangkan kemampuan dan memperluas pengalaman melalui kerja sama internasional.

KLIC Juga Berkaitan dengan Pemerataan Kualitas Guru

Pemerataan pendidikan sering dibicarakan dari sisi siswa, tetapi kualitas guru juga menjadi bagian penting. Siswa yang tinggal jauh dari pusat kota tetap membutuhkan pembelajaran berkualitas dan guru yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pendidikan.

Penguatan kompetensi digital dapat membantu guru memperoleh lebih banyak pilihan dalam menyampaikan materi. Sumber belajar yang sebelumnya sulit diperoleh dapat dimanfaatkan melalui teknologi, selama fasilitas dasar dan kemampuan guru mendukung.

Kondisi ini membuat program pengembangan kompetensi digital berpotensi memberikan dampak yang lebih luas, khususnya ketika pengetahuan yang diperoleh peserta diterapkan dan dibagikan kembali kepada komunitas pendidikan di daerah.

Perangkat Digital Harus Diikuti Kemampuan Guru

Pengadaan perangkat digital tidak otomatis meningkatkan kualitas pembelajaran. Laptop, tablet, layar interaktif, dan perangkat lainnya membutuhkan guru yang memahami cara menggunakannya sesuai kebutuhan siswa.

Perangkat juga membutuhkan pemeliharaan dan dukungan teknis. Jika tidak digunakan secara optimal, fasilitas yang telah disediakan berisiko hanya menjadi inventaris sekolah tanpa memberikan perubahan berarti dalam proses belajar.

Karena itu, peningkatan kompetensi guru sebaiknya berjalan beriringan dengan penyediaan infrastruktur. Guru perlu mengetahui bukan hanya cara mengoperasikan perangkat, tetapi juga bagaimana menggunakannya untuk membuat pembelajaran lebih efektif.

Guru Perlu Memahami Kapan AI Digunakan

Masuknya AI ke lingkungan pendidikan membuat kompetensi digital guru menjadi semakin kompleks. Guru perlu memahami fungsi AI, tetapi juga harus mampu menentukan batas penggunaannya.

Dalam pembelajaran, AI dapat digunakan untuk membantu membuat ide aktivitas, menyusun bahan awal, membuat variasi soal, membantu visualisasi, atau mendukung eksplorasi materi. Namun, hasil yang dibuat AI tetap perlu diperiksa dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

Guru juga memiliki peran penting dalam membimbing siswa agar tidak menerima jawaban AI secara mentah. Kemampuan berpikir kritis tetap harus menjadi bagian utama dari proses belajar.

Teknologi Tidak Menggantikan Peran Guru

Penguatan kompetensi digital bukan berarti guru akan digantikan oleh teknologi. Justru sebaliknya, kemampuan guru menjadi semakin penting ketika semakin banyak teknologi tersedia.

Aplikasi dapat membantu menyediakan informasi, membuat materi, atau memberikan umpan balik. Namun, guru tetap memahami karakter siswa, kondisi kelas, kebutuhan emosional, dan konteks pembelajaran yang tidak selalu dapat dipahami oleh teknologi.

Karena itu, KLIC menempatkan teknologi sebagai bagian dari peningkatan kualitas pembelajaran. Tujuan akhirnya bukan membuat kelas terlihat modern, tetapi membuat proses belajar menjadi lebih bermakna.

Dari Korea ke Ruang Kelas Indonesia

Nilai utama dari KLIC 2026 bukan semata-mata kesempatan mengikuti program internasional. Tantangan sebenarnya justru muncul setelah guru kembali ke sekolah dan harus menerapkan pengetahuan yang diperoleh.

Guru perlu memilih praktik yang sesuai dengan kondisi sekolah. Materi yang berhasil diterapkan di Korea Selatan belum tentu langsung cocok digunakan di sekolah Indonesia tanpa penyesuaian.

Proses adaptasi tersebut membutuhkan kreativitas. Guru dapat memulai dari teknologi sederhana, kemudian mengembangkannya secara bertahap sesuai fasilitas dan kebutuhan siswa.

Perspektif yang Jarang Dibahas: Kompetensi Digital Tidak Sama dengan Banyaknya Aplikasi

Ada kecenderungan mengukur kemampuan digital guru dari jumlah aplikasi yang dikuasai. Padahal, kompetensi digital yang baik justru terlihat dari kemampuan memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Guru tidak harus menguasai puluhan aplikasi. Satu atau dua alat yang benar-benar dipahami dan digunakan secara konsisten bisa memberikan dampak lebih besar dibandingkan banyak aplikasi yang hanya digunakan sesekali.

Karena itu, keberhasilan KLIC sebaiknya tidak hanya dilihat dari seberapa banyak teknologi yang dipelajari peserta. Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut mengubah cara guru merancang pembelajaran dan membantu siswa mencapai tujuan belajar.

Tantangan Berikutnya Ada pada Keberlanjutan

Pelatihan intensif dapat meningkatkan kemampuan dalam waktu singkat. Namun, mempertahankan kebiasaan menggunakan teknologi membutuhkan dukungan setelah pelatihan selesai.

Guru membutuhkan ruang untuk mencoba, berdiskusi, mengevaluasi kegagalan, dan melihat contoh praktik dari guru lain. Komunitas seperti MGMP, KKG, sekolah, maupun kelompok belajar guru dapat menjadi tempat penting untuk menjaga keberlanjutan hasil pelatihan.

Jika pengalaman KLIC hanya berhenti pada 24 peserta, dampaknya akan terbatas. Sebaliknya, jika peserta menjadi penggerak berbagi praktik di sekolah dan komunitas guru, manfaat program dapat berkembang jauh lebih luas.

KLIC 2026 dan Arah Baru Kompetensi Guru

Program KLIC 2026 memperlihatkan bahwa peningkatan kompetensi guru semakin erat dengan kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak. Pemerintah tidak hanya membutuhkan guru yang mampu menggunakan perangkat, tetapi juga pendidik yang dapat menghubungkan teknologi dengan pembelajaran yang berpusat pada murid.

Keterlibatan 24 guru dari jenjang SD hingga SMK menjadi langkah awal dalam memperkuat kapasitas pendidik melalui kerja sama Indonesia dan Korea Selatan. Kehadiran instruktur dari Korea Selatan juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal praktik pendidikan digital dari perspektif internasional.

Di tengah perkembangan AI, koding, dan pembelajaran mendalam, guru membutuhkan kemampuan untuk terus belajar. Teknologi akan berubah, aplikasi akan berganti, tetapi kemampuan guru untuk memilih, mengadaptasi, dan menggunakan teknologi sesuai kebutuhan siswa akan tetap menjadi kunci.

KLIC 2026 Bukan Akhir, tetapi Awal Perubahan di Sekolah

KLIC 2026 menjadi salah satu upaya Ditjen GTK memperkuat kompetensi digital guru melalui kerja sama pendidikan dengan Republik Korea. Program ini melibatkan 24 guru terpilih dari berbagai jenjang dan memberikan pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Program tersebut juga sejalan dengan kebutuhan pendidikan Indonesia yang kini semakin memberi perhatian pada Pembelajaran Mendalam, Koding, dan AI. Namun, teknologi tidak boleh diposisikan sebagai tujuan akhir. Teknologi harus digunakan ketika memang mampu membantu siswa memahami materi, berpikir lebih kritis, berkolaborasi, dan menghasilkan pembelajaran yang bermakna.

Tantangan terbesar setelah pelatihan justru berada di sekolah masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh peserta perlu diterapkan, dievaluasi, kemudian dibagikan kepada guru lain agar manfaat KLIC tidak berhenti pada peserta yang terpilih.

Jika proses tersebut berjalan konsisten, program kerja sama Indonesia-Korea ini tidak hanya menghasilkan guru yang lebih terampil menggunakan teknologi. Lebih jauh, KLIC dapat membantu membangun budaya pembelajaran yang lebih adaptif sekaligus membuka kesempatan bagi guru dari berbagai daerah untuk ikut bergerak dalam perubahan kualitas pendidikan Indonesia.

Meta deskripsi:
Program KLIC 2026 Ditjen GTK melibatkan 24 guru untuk memperkuat kompetensi digital melalui kerja sama Indonesia-Korea. Simak tujuan, pelatihan, AI, dan dampaknya bagi guru.